Hari ini saya kembali bertemu dengan anak penjual cireng yang dulu saya temui di daerah Darut Tauhid (DT). Kali ini saya lihat dia sedang duduk kelelahan di depan pintu Warung Steak Setiabudi. Dagangannya tinggal dua bungkus lagi. Lalu saya menyempatkan diri untuk mengobrol dengan dia.
Menurut ceritanya dia berjualan di sekitaran setiabudi setiap malam. Paginya dia sekolah di SD (saya lupa lagi nama SD-nya hehe).
Lalu saya tanya "Tiap hari dagangannya suka habis, De?". Dia jawab "Habis" singkat dan lemas. "Berapa harga cirengnya?" tanya saya lagi. "4ooo" dia jawab.
Lalu saya mengambil dompet dengan maksud ingin membeli sisa dua cireng tersebut. Setelah di lihat, ternyata tidak ada uang kecil di dompet saya. Saya lalu bergegas menemui salah satu teman saya berniat meminjam uang 5.ooo. Sayang ternyata teman saya tidak punya 5.ooo. "Adanya 1o.ooo" dia bilang. "Ya udah ga apa-apa" jawab saya.
Saya lalu kembali menemui anak itu dan membeli cirengnya. "Terima Kasih, A" dia bilang.
Sebenarnya saya membeli cirengnya karena kasihan dan saya salut akan kemauannya, bukan karena saya memang ingin membeli cireng. Bisa saja saya langsung memberi uang, tetapi menurut saya itu tidak mendidiknya menjadi penjual hebat suatu saat nanti karena tidak selamanya kita bisa hidup karena belas kasihan Suatu saat anak itu harus hidup dengan usahanya sendiri.
Hmm...saya jadi berkhayal. Jika suatu saat saya bertemu anak itu lagi. Saya akan memberinya buku. Untuk pertemuan kedua saya akan beri dia 2o.ooo gratis, tetapi dia harus mempresentasikan dagangannya secara memukau. Sehingga orang membeli cirengnya benar-benar karena keahlian menjualnya.
Semoga kelak kau bisa menjadi anak yang berguna anak penjual cireng :)
related post

0 komentar:
Posting Komentar