Selasa, 23 November 2010

Bagaimana senyum bisa mengubah hidup


Senyum adalah satu kata yang sederhana, tetapi memiliki sejuta keajaiban. Kita pasti senang melihat orang yang sedang tersenyum. Bagaimanapun bentuk dan fisik orang apabila dia tersenyum dia akan terlihat menarik. Amalan yang paling mudah dan murah adalah senyum kata pak ustad. Senyum itu sehat menurut bapak dokter dan guru olah raga. Senyum itu bernilai jutaan dolar kata Charles Schwab.

Hanya satu saja syarat untuk mendapatkan semua keajaiban tersebut, yaitu senyuman yang tulus. Sebuah senyum tulus lebih baik dari pada sejuta senyum palsu yang terencana. Senyum palsu pastinya tidak enak untuk dilihat. Prosesnya terlalu teknis seperti mesin mati. Senyum palsu tidak ada artinya sedangkan senyum tulus banyak artinya.

Bayi adalah masternya senyuman tulus. Begitu riang, polos dan tulus karena memang dia ingin tersenyum. Sebuah rumah praktik dokter mengalami hal ini. Biasanya tempat-tempat seperti itu penuh dengan kesuraman terutama di ruang tunggunya. Kebetulah hari itu pasien yang datang ingin berobat sangat banyak. Alhasil mereka harus mengatri berjam-jam di sana untuk menunggu diobati. Suasana muram durja menghiasi tempat itu. Hampir semua orang meratapi nasibnya yang membuluk di ruang tunggu pasien.

Lalu seorang ibu datang dengan bayinya. Bayi tersebut tiba-tiba tersenyum kepada seorang bapak yang ada di sana. Spontan bapak itu membalas senyuman bayi tersebut. Sang bapak kemudian mengobrol dengan ibu anak itu dan memberitahunya betapa lucu anaknya. Ibu itu sangat senang anaknya dibilang lucu. Dia lalu meceritakan berbagaihal kepada bapak tersebut. Suasana di sana tiba-tiba menjadi hangat karena satu senyuman dari seorang bayi.

Kita tidak perlu cantik, ganteng, pakai perhiasan dan beli mobil mewah untuk menarik. Pendidikan juga bukan hal yang utama untuk menarik minat orang. Saya lebih senang dan menghormati lulusan SMA yang murah senyum dari pada melihat seorang Phd dengan raut muka suram. Ngomong-ngomong soal Phd saya ada cerita menarikmengenai salah satu dosen saya yang juga Phd.

Ketika kuliah dulu ada dosen bahasa inggris yang terkenal killer dan suka men-DO mahasiswa. Tentu saja kami was was dengan hal ini. Tapi pada pertemuan pertama dan pertemuan selanjutnya sampai satu semester ternyata dia tidak seperti yang dibicarakan. Mungkin itu karena kami sama sekali tidak menganggapnya dosen killer. Kami tersenym ketika dia bercanda. Bukan tersenyum karena takut di-DO tapi karena memang kami benar-benar ingin tersenyum.

Dia bahkan ingin mengajar kami lagi pada semester selanjutnya dan akhirnya dia menjadi dosen bahasa inggris kami selama empat tahun. Singkat cerita di tahun terakhir dan pertemuan terakhir entah kenapa dia tiba-tiba marah. Katanya kami membuatnya kecewa karena suatu alasan yang saya sendiri kurang mengerti apa. Kami bingung, tetapi dari pada membalas kemarahannya kami malah memberikan senyuman dan memberikannya hadiah sebagai ucapan terima kasih atas jasanya mengajar kami selama empat tahun. Suasana yang tegang akhirnya berubah menjadi hangat. Dia terharu karena selama ini belum ada yang pernah memberikan penghargaan tulus seperti itu. Akhirnya dia memberi kami kartu perpisahan dan hadiah berupa tipe-x kepada kami.

Berikut ini adalah potongan bait puisi tentang senyum yang saya ambil dari buku Dale Carnegie:
Dia tidak meminta bayaran, namun menciptakan banyak.
Dia memperkaya mereka yang menerimanya, tanpa membuat melarat mereka yang memberinya.
Dia terjadi hanya sekejap namun kenangan tentangnya kadang-kadang bertahan selamanya.
Tak seorangpun yang meskipun begitu kaya mampu bertahan tanpa dia, dan tak seorangpun yang begitu miskin tetapi menjadi lebih kaya karena manfaatnya.
Dia menciptakan kebahagiaan di rumah, mendukung niat baik dalam bisnis, dan merupakan tanda balasan dari kawan-kawan.
Dia memberi istirahat untuk rasa letih, sinar terang untuk rasa pustus asa, sinar mentari bagi kesedian, dan penangkal Alam bagi kesulitan.
Namun dia tidak bisa dibeli, dimohon, dipinjam, atau dicuri, karena dia adalah sesuatu yang tidak berguna sebelum diberikan kepada orang lain.

Sumber: How to Win Friend and Influence People, Dale Carnegie

0 komentar:

Posting Komentar