Pada awalnya saya di ajak oleh salah satu sahabat saya ke Cililin untuk berburu burung. Saya tidak terlalu mahir menembak burung, bahkan memegang senapan pun saya belum pernah. Tujuan saya ke saya ke sana bukan untuk berburu burung, tapi untuk sekedar hiking saja. Yaa itung-itung refreshing lah dari pada ngebuluk terus di kamar.
Kami sampai ke sana sekitar pukul 8.00 WIB. Lalu kami menitipkan motor kami di salah satu rumah penduduk dan perburuanpun di mulai. Belum lama berjalan muncul seekor bajing. Sayang bajing tersebut kabur karena takut setelah mendengar teriakan dari seorang ibu. “Eta jang aya bajing, aya bajing di didinya” teriaknya. Berterima kasihlah pada Ibu itu, Bajing! Jika bukan karena ibu itu mungkin kau sudah tinggal nama.
Ibu itu adalah penduduk yang tinggal di sekitar desa. Dia sedang membuat batu bata. Ternyata Cililin adalah salah satu daerah penghasil batu bata. Sambil membuat batu bata ibu itu mengobrol dengan saya. Katanya batu bata di sini biasa di jual Rp.400 per buahnya dan selain itu bata di sini lebih bagus dari pada bata merah biasa.
Setelah mengobrol dan melihat proses pembuatan batu bata, perburuanpun di lanjutkan. Kami berjalan menyusuri sawah, pohon, saung, dan kebun, tetapi kami belum berhasil menembak jatuh satu burung pun. Hanya lelah dan haus saja yang sampai ke badan. Padahal kami sudah mengendap-ngendap dan berbicara dengan berbisik-bisik agar burung-burung tidak mendengar suara kami, tapi tetap saya belum ada burung yang didapat.

Cililin Village, Source: Flickr.com
Kami lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak di teras rumah penduduk. Tidak seperti di kota, di sini kebanyakan rumah penduduk tidak memiliki pagar sebatangpun. Orang-orangnya juga sangat ramah. Mereka mempersilahkan kami untuk beristirahat di rumah mereka. Padahal kami adalah orang asing yang membawa senapan. Inilah yang paling saya senang dari penduduk desa, keramahtamahannya.
Setelah beristirahat kami melajutkan perburuan kami. Sementara dua orang teman saya berburu burung. Saya dan lima orang teman saya yang lain lebih memilih untuk beristirahat di saung entah punya siapa. Di dekat saung itu ada pohon kelapa dan buahnya nampak sudah matang. Salah satu teman saya lalu berinisiatif memanjat pohon kelapa itu. Setelah berjuang cukup lama dengan banyaknya semut yang tinggal di pohon itu akhirnya dia berhasil mendapatkan buah kelapa itu.
Kami lalu membuka buah kelapa itu dengan pacul yang kami temukan di saung entah punya siapa. Dan tibalah saatnya mencicipi kelapa asli buatan alam, hehe. Rasanya? Seger pisan euy. Beda sangat sama buah kelapa yang biasa di jual di pinggir jalan. Yang ini manisnya beda, lebih seger, lebih asli, lebih wangi, dagingnya lebih legit. Pokoknya nikmat lah.
Setelah puas berburu dan jalan-jalan di sana kamipun lalu pulang karena jika tidak pulang kami bakal di sangka orang hilang oleh keluarga kami. Cililin memang tidak memiliki pabrik lilin atau museum Madame Tussaud, tetapi di sini ada udara yang bersih, pemandangan yang aduhai, masyarakat yang ramah, batu bata, serta kelapa yang nikmaaaat...

0 komentar:
Posting Komentar