Ketika saya jalan-jalan ke daerah Darut Tauhid (DT) di Bandung, saya melihat seorang anak, umurnya kira-kira 7-8 tahun, penampilannya dekil dan mengenakan pakaian lusuh seadanya. Anak itu berkeliling menjual cireng mentah pada malam hari. Dia menawari saya dan teman-teman saya dagangannya.
Di situ saya malah diam melongo dan merinding karena kaget melihat ada anak sekecil itu berdagang cireng di malam hari. Salah satu teman saya lalu mengeluarkan uang Rp.5000,00 dan berkata "Ini dek, ambil aja uangnya."Mungkin itu juga salah satu cerminan kondisi sosial di masyarakat Indonesia. Jika kita perhatikan masih banyak anak-anak jalanan yang berjualan, mengamen, bahkan mengemis. Mereka melakukan itu demi memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarga. Yang istimewa dari anak penjual cireng itu adalah dia memenuhi kebutuhan hidupnya tidak dengan mengemis, tetapi dengan berdagang. Saya pribadi salut dengan anak itu. Menurut saya dia lebih hebat dari anak-anak bahkan orang tua yang mengemis di jalan. Dia lebih hebat dari pada saya yang baru berani berdagang ketika duduk di bangku SMA.
Bukan tidak mungkin jika suatu hari anak itu akan menjadi seorang pengusaha sukses. Namun itu bukanlah hal yang mudah. Untuk menjadi seorang pengusaha sukses dia butuh pendidikan finansial yang memadai. Masalahnya pendidikan finansial biasanya tidak diajarkan di sekolah formal. Kalaupun diajarkan, itu hanya sebatas pendidikan finansial untuk seorang pekerja bukan untuk seorang pengusaha mandiri. Dunia luar menyediakan pendidikan finansial jauh lebih banyak, baik itu berupa buku, artikel, berita atau pengalaman.
Selain itu dia juga butuh seorang pembimbing yang bisa membimbing-nya menuju jalan sukses-nya. Saya melihat dia menjadikan berdagang sebagai beban bukan sebagai hal yang diinginkannya. Dia melakukan itu karena terpaksa. Agar dia dapat melepaskan semua beban itu dia membutuhkan seorang pembimbing yang hebat, yang dapat memotivasi, mengarahkan, serta membimbing-nya.
Indonesia hanya membutuhkan sedikitnya 2% dari jumlah populasinya yang berpofesi sebagai pengusaha jika ingin maju. Namun pemerintah seolah tidak sadar akan hal ini. Mereka terus menciptakan dan mengembangkan kurikulum untuk mencetak pekerja bukan kurikulum untuk seorang inovator. Mereka membiarkan bibit-bibit penumbuh ekonomi bangsa terbengkalai. Padahal konon katanya Indonesia ingin maju dan bangkit sebagai macan asia.
Jepang maju karena industri-nya, Cina maju karena industri-nya, Korea maju karena indusntri-nya, India maju karena Industri-nya , Singapura maju karena industrinya, Thailand juga berkembang karena industri-nya. Indonesia juga ingin maju sebagai negara industri, tetapi kenapa para pelopor/pencetus industri di negara kita tidak dikembangkan. Jika ingin mengejar negara lain, maka kita juga harus mulai menyirami, memberi pupuk, dan merawat bibit-bibit penumbuh ekonomi bangsa.

0 komentar:
Posting Komentar