Sebut saja nama pemuda ini Asep. Pagi ini kondisi badannya sedang tidak terlalu fit. Suhu badannya tidak normal dan suaranya parau. Dia tinggal di Kiaracondong, Bandung. Hari ini dia pergi ke daerah pasteur untuk melakukan psikotes di salah satu perusahaan jasa di Bandung. Jaraknya sekitar 8 sampai 9 kilo meter dari rumahnya. Dia berangkat dari rumahnya sekitar pukul tujuh pagi dengan motor supra hitam yang dihiasi abu vulkanik merapi yang sekarang sedang meraung-raung di Jateng sana. Perawakan Asep kurus, tidak terlalu tinggi, kulitnya coklat khas Indonesia, mukanya yang oval kecil tampak semakin kecil karena kacamata tebal berframe hitam yang dia kenakan.
Psikotes yang merupakan tahap awal seleksi pegawai dilakukan pukul 8.00. Dia sampai di tempat tepat pukul 8.00 dengan motor abu vulkaniknya. Jika dihitung-hitung Asep yang lulusan SMK tahun 2005 ini sudah 4 tahun menganggur. Pernah dulu dia bekerja di sebuah hotel di Bandung atas ajakan saudaranya. Sayang hal itu hanya bertahan satu tahun karena dia memiliki konflik dengan bos besar di sana. Dia lalu keluar dari pekerjaannya dengan tanpa pemberitahuan. Rekan kerja dan bahkan atasannya menyayangkan kepergiannya yang tanpa kabar. Entah kenapa ada suatu sisi tertentu dari Asep yang membuat mereka menyanyanginya dan begitu perduli padanya.
Entah ini psikotes keberapa kali yang diikuti Asep. Psikotes baginya bukan barang baru. Dia sudah hafal maksud dari berbagai bentuk dan macam-macam psikotes. Begitu juga dengan tes hari ini. Psikotes ke-1 menguji kecakapan bahasa. Tidak ada masalah dengan yang ini. Lalu psikotes ke-2 menguji kemampuan menghitung. HItung-hitungan simpel ala anak SD. Namun jika lupa melanda sesimpel apapun tetap saja akan menjadi sulit setingkat S3. Di tes ini dia hanya mampu mengerjakan beberapa soal saja. Berbeda dengan orang di samping kiri dan kanannya yang mampu menjawab soal dengan lancar. Terbersit niat untuk melihat jawaban teman di sampingnya. Namun niat itu diurungkannya karena mereka dengan segera menutup rapat-rapat jawaban mereka. Aah sudahlah pikir-nya toh kalo rezeki tidak akan ke mana.
Tes ke-3 menguji kemampuan daya ingat. Dia diharuskan menghafal 5 baris kata dalam waktu 3 menit. Niat kurang baik kembali timbul di pikirannya. Sembari menghafal, dia menulis lima baris kata itu di telapak tangannya agar nanti bisa dilihat ketika tes. Lalu tes pun dimulai, perasaan takut dengan pengawas menghalanginya untuk melihat kata-kata yang telah dia tulis di telapak tangannya. Padahal sebenarnya tidak ada pengawas satupun disana. Akhirnya dia pun mengerjakan tes ini dan tes-tes selanjutnya dengan jujur dan dengan kemampuan terbaik yang dimilikinya.
Sebenarnya mimpinya adalah menjadi seorang pengusaha karet seperti kakak-nya. Bukan sebagai produsen atau distributor karet, tetapi sebagai orang yang mengolahnya. Karet tersebut ingin dia olah menjadi suku cadang kendaraan. Dia ingin memasarkan produknya ke luar pulau Jawa khususnya Sumatra dan Kalimantan karena harga produk karet masih tinggi di sana. Harga produk karet di pulau Jawa konon katanya sudah jatuh sehingga kurang menguntungkan bagi pengusaha karet. Untuk menjadi pengusaha karet dibutuhkan modal yang tidak sedikit, oleh karena itu dia ingin bekerja terlebih dahulu sambil mengumpulkan beberapa juta rupiah untuk modal.
Tiga jam berlalu dan akhirnya psikotes tersebut selesai pada puku 11.00. Mata lelah dan badan yang pegal karena duduk berjam-jam mendorongnya untuk pergi beristirahat di sebuah warung di sekitar sana. Segelas kopi tampak nikmat di matanya, namun panas terik dan tenggorokannya yang haus lebih mendorongnya untuk memesan es blue berry dari pada kopi. Dia lalu tersenyum kepada saya yang juga ada di sana dan kami pun akhirnya bertegur sapa. "Mau rokok, Kang?" sapanya ramah dengan suara yang parau. Lalu kami menghabiskan waktu bercerita tentang hal-hal yang saya ceritakan di atas.
Semonga kamu berhasil, Sep. :D
06 November 2010
Pasteur, Bandung
Psikotes yang merupakan tahap awal seleksi pegawai dilakukan pukul 8.00. Dia sampai di tempat tepat pukul 8.00 dengan motor abu vulkaniknya. Jika dihitung-hitung Asep yang lulusan SMK tahun 2005 ini sudah 4 tahun menganggur. Pernah dulu dia bekerja di sebuah hotel di Bandung atas ajakan saudaranya. Sayang hal itu hanya bertahan satu tahun karena dia memiliki konflik dengan bos besar di sana. Dia lalu keluar dari pekerjaannya dengan tanpa pemberitahuan. Rekan kerja dan bahkan atasannya menyayangkan kepergiannya yang tanpa kabar. Entah kenapa ada suatu sisi tertentu dari Asep yang membuat mereka menyanyanginya dan begitu perduli padanya.
Entah ini psikotes keberapa kali yang diikuti Asep. Psikotes baginya bukan barang baru. Dia sudah hafal maksud dari berbagai bentuk dan macam-macam psikotes. Begitu juga dengan tes hari ini. Psikotes ke-1 menguji kecakapan bahasa. Tidak ada masalah dengan yang ini. Lalu psikotes ke-2 menguji kemampuan menghitung. HItung-hitungan simpel ala anak SD. Namun jika lupa melanda sesimpel apapun tetap saja akan menjadi sulit setingkat S3. Di tes ini dia hanya mampu mengerjakan beberapa soal saja. Berbeda dengan orang di samping kiri dan kanannya yang mampu menjawab soal dengan lancar. Terbersit niat untuk melihat jawaban teman di sampingnya. Namun niat itu diurungkannya karena mereka dengan segera menutup rapat-rapat jawaban mereka. Aah sudahlah pikir-nya toh kalo rezeki tidak akan ke mana.
Tes ke-3 menguji kemampuan daya ingat. Dia diharuskan menghafal 5 baris kata dalam waktu 3 menit. Niat kurang baik kembali timbul di pikirannya. Sembari menghafal, dia menulis lima baris kata itu di telapak tangannya agar nanti bisa dilihat ketika tes. Lalu tes pun dimulai, perasaan takut dengan pengawas menghalanginya untuk melihat kata-kata yang telah dia tulis di telapak tangannya. Padahal sebenarnya tidak ada pengawas satupun disana. Akhirnya dia pun mengerjakan tes ini dan tes-tes selanjutnya dengan jujur dan dengan kemampuan terbaik yang dimilikinya.
Sebenarnya mimpinya adalah menjadi seorang pengusaha karet seperti kakak-nya. Bukan sebagai produsen atau distributor karet, tetapi sebagai orang yang mengolahnya. Karet tersebut ingin dia olah menjadi suku cadang kendaraan. Dia ingin memasarkan produknya ke luar pulau Jawa khususnya Sumatra dan Kalimantan karena harga produk karet masih tinggi di sana. Harga produk karet di pulau Jawa konon katanya sudah jatuh sehingga kurang menguntungkan bagi pengusaha karet. Untuk menjadi pengusaha karet dibutuhkan modal yang tidak sedikit, oleh karena itu dia ingin bekerja terlebih dahulu sambil mengumpulkan beberapa juta rupiah untuk modal.
Tiga jam berlalu dan akhirnya psikotes tersebut selesai pada puku 11.00. Mata lelah dan badan yang pegal karena duduk berjam-jam mendorongnya untuk pergi beristirahat di sebuah warung di sekitar sana. Segelas kopi tampak nikmat di matanya, namun panas terik dan tenggorokannya yang haus lebih mendorongnya untuk memesan es blue berry dari pada kopi. Dia lalu tersenyum kepada saya yang juga ada di sana dan kami pun akhirnya bertegur sapa. "Mau rokok, Kang?" sapanya ramah dengan suara yang parau. Lalu kami menghabiskan waktu bercerita tentang hal-hal yang saya ceritakan di atas.
Semonga kamu berhasil, Sep. :D
06 November 2010
Pasteur, Bandung

0 komentar:
Posting Komentar