Selasa, 23 November 2010

Seni Menjual Produk

Sales Promotion Girl (SPG) biasanya sering kita jumpai ketika kita ingin membeli sebuah produk. Jika diperhatikan hampir semua SPG memiliki ciri fisik wajahnya cantik, tinggi ideal, body aduhai, kulit mulus, dan pakaian yang menarik. Dengan meng-hire SPG seperti itu perusahaan percaya bahwa konsumen dapat lebih tertarik untuk membeli produk mereka. Tapi saya memiliki pendapat yang berbeda, Fisik bukanlah hal utama yang menentukan kualitas seorang SPG/Sales yang paling penting justru adalah selling skill-nya.

Saya berpendapat seperti itu berdasarkan pengalaman saya sendiri ketika ingin membeli Kamera Digital di sebuah pusat perbelanjaan khusus elektronik di Bandung. Ketika itu saya tidak tahu produk apa yang harus saya beli karena pengetahuan saya tentang kamera sangat minim. Saya lalu berkeliling di sana untuk mencari produk yang saya inginkan.

Toko A
Tibalah di toko A. Sales-nya tergolong memiliki penampilan yang menarik dengan potongan rambut pendek dan kuilt putih mulus. Saya lalu bertanya tentang beberapa produk kamera dengan kisaran harga antara 1.5-2 juta. Dia lalu menawari saya beberapa produk dan merayu saya untuk membeli salah satu dari produk tersebut.

SPG itu berkata "Produk ini punya fitur auto focus dan anti-shake. Nah kalo yang punya fitur pengaturan manual yang lengkap." Dia lalu melanjutkan rayuannya "Tetapi jika ingin fitur yang sangat lengkap tapi murah maka beliah yang ini." Titik sampai disitu. Entah mengapa saya kurang tertarik dengan apa yang sales itu jelaskan. Saya lalu mengucapkan "Oh gitu. Ya udah mbak makasi nanti saya pikir-pikir dulu."

Toko B
Lalu saya berkeliling lagi. Ternyata di jalan ada gerai produk suatu kamera. SPG yang ini lebih cantik walaupun body-nya tergolong biasa saja, tetapi pakaian yang dikenakannya sangat serasi dengan wajahnya yang cantik. Saya lalu tertarik mendekat untuk mengambil brosur kamera. Seperti biasa SPG itu menawari saya berbagai macam tipe kamera.

Saya lalu bertanya fitur kamera tersebut, garansi, harga, bonus dan sebagainya. Lalu dia menjelaskan dengan sabar dan tenang. Rayuannya tapi tidak lebih baik daripada sales di toko A. Saya terus menanyakan sesuatu seolah tertarik dengan produknya, padahal karena saya betah dengan mbak-mbak itu. Jujur saya bahkan lebih tertarik dengan SPG-nya daripada kamera yang dia jual hehehe. Setelah bahan pembicaraan habis saya pun pergi lagi untuk mencari kamera yang saya cari.

Toko C
Saya lalu melihat Toko C. Penampilan Sales-nya biasa saja. Yang istimewa adalah desain toko-nya yang minimalis dengan dilengkapi berbagai furnitur bernuansa kuning. Berbagai macam tipe kamera di tata di etalase toko dengan rapi. Desain Interior toko itu yang membuat saya masuk. Kali ini saya lebih tertarik dengan desain tokonya dari pada Sales-nya.

Dia kembali merayu saya. Caranya hampir sama, dengan menerangkan fitur-fiturnya apa saja, kelengkapannya, bonus yang akan saya dapat. Tetapi dia tidak berhenti sampai disitu. Dia lalu menerangkan bagaimana fitur-fitur tersebut dapat mempermudah saya dalam menjepret hasil bidikan. Mengapa auto fokus yang akurat sangat penting pada sebuah kamera. Lalu dia juga menerangkan mengapa saya harus punya kamera dengan fitur pengaturan manual. Sales itu merayu dengan cara menerangkan sedetail mungkin bagaimana kamera tersebut dapat bekerja dan bagaimana kamera tersebut dapat membuat hidup saya menjadi lebih menarik.

Akhirnya saya membeli kamera dari toko tersebut. Ternyata tidak hanya saya yang terkesima oleh selling skill-nya. Beberapa teman saya juga demikian. Saya pernah mengantar beberapa teman untuk membeli kamera di pusat perbelanjaan itu. Seperti biasa kami berkeliling. Karena suatu alasan pada akhirnya mereka selalu tertarik membeli di toko C. Padahal saya sama sekali tidak memberikan saran apapun pada mereka.
Kesimpulan
Selling Skill merupakan suatu kemampuan khusus yang dimiliki. Untuk memilikinya perlu pengalaman dan teknik khusus. Penampilan juga bukan hal utama. Tidak perlu cantik atau ganteng untuk menjadi seorang sales, enak dilihat saja sudah cukup, yang penting adalah kemampuannya.

Banyak produsen terlalu fokus untuk membuat produk hebat, tetapi mereka lupa untuk mengomunikasikan kehebatan produknya kepada konsumen. Sehebat apapun produk tersebut jika konsumen tidak mengetahuinya, apa gunanya.

0 komentar:

Posting Komentar