Selasa, 23 November 2010

22 Tahun Menjadi Indonesia

Tidak terasa sudah 22 tahun saya menjadi warga negara Indonesia.  Tulisan kali ini lebih kepada suka duka, unek-unek, serta kesan saya selama hidup di Indonesia selama 22 tahun terakhir ini.

Ketika saya masih SD Indonesia sedang menikmati puncak kejayaan dari hutang luar negerinya berkat jasa Pak Soeharto. Menurut cerita pada saat itu harga-harga sangat murah. Saya tidak ingat pasti berapa harga sembako, BBM, dan listrik ketika itu karena yang saya pikirkan hanya harga snack, makanan, dan mainan. Yang pasti pada saatu itu tidak ada antri sembako dan BBM, tidak ada gas meledug, tidak ada demo, tidak ada kerusuhan warga. Maka wajar saja jika masih ada beberapa orang yang beranggapan bahwa zaman Soeharto lebih baik dari sekarang.

Tapi apakah anda sadar wahai fans Soeharto. Semua itu hanya kesejahteraan semu dari hutang luar negeri. Kapitalisme berkata jika anda ingin menguasai seseorang maka buatlah orang tersebut berhutang banyak kepada anda, maka orang tersebut akan melakukan apa yang anda mau.

Berbicara tentang nasionalisme maka saya teringat pelajaran sejarah dan pendidikan kewarganegaraan sewaktu sekolah dulu. Salah satu fungsi belajar sejarah dan PKN yang saya tahu adalah untuk memperkuat nasionalisme. Tetapi tidak pernah sekalipun ketika ujian saya ditanya: apa makna dari nasionalisme? Apa makna dari sumpah pemuda? apa yang membuat hari kebangkitan nasional begitu penting? kenapa saya harus bangga menjadi Bangsa Indonesia?

Yang ada kami diserang dengan pertanyaan-pertanyaan tentang tanggal berapa dan pasal berapa. Beberapa orang yang memiliki ingatan bagus tentang tanggal dan pasal mendapatkan nilai ujian sejarah yang bagus. Tetapi coba pikirkan, apakah orang-orang yang memiliki nilai bagus itu benar-benar mengerti, memahami dan memaknai nasionalisme dengan baik. Apakah mereka menjadi orang-orang dengan nasionalisme tinggi?

Semasa SMA saya jenuh dengan yang namanya upacara bendera tiap hari Senin. Menurut saya ini buang-buang waktu. Kami disuruh berbaris, menyanyi lagu nasional, membacakan dan mendengarkan pancasila dan pembukaan UUD 45. Tidakah kalian sadar bahwa kami sudah hapal semua itu diluar kepala. Pada akhirnya semua itu hanya jadi kegiatan tidak bermakna yang menjenuhkan. Bukankah lebih baik bila kita menekankan pada bagaimana penerapan pancasila. Percuma saja hafal seluruh text Pancasila dan UUD jika tidak diterapkan.

Menurut saya upacara sebaiknya dilakukan setahun sekali atau dua kali pada hari penting saja. Upacara bendera akan terasa lebih spesial.  Setiap orang akan berbondong-bondong untuk ikut upacara karena sayang jika melewatkan acara yang hanya ada satu kali dalam setahun ini. Setiap kejadian yang ada di upacara akan benar-benar di ingat sebagai sesuatu yang istimewa bukannya sebagai sesuatu yang mejemukan.

Beranjak kuliah saya mulai memikirkan tentang apa sebenarnya masalah bangsa ini yang membuatnya sangat sulit untuk maju. Menurut saya masalahnya adalah mental. Bangsa ini dilanda kanker mental stadium akhir. Di mana-mana ada saja ketidakjujuran. Sedihnya seringkali ketidakjujuran itu  dianggap wajar ketika itu dilakukan oleh hampir mayoritas orang. Contoh kecil nya jalur cepat bikin KTP. Semua orang tahu itu salah tapi toh tetap saja dilakukan karena semua orang juga melakukan. Contoh yang lebih besar adalah besar adalah korupsi. 

Selain itu disiplin yang merosot. Peraturan dibuat untuk dilanggar. Haha, ada-ada saja negeri ini.

Jadi ingat masa-masa sekolah dulu. Yang diajarkan disekolah bahwa disiplin itu adalah rambut pendek, baju dimasukan, dan sepatu hitam. Saya sering dicap sebagai siswa tidak disiplin karena rambut selalu panjang, baju jarang dimasukkan, dan sepatu berwarna. Konon katanya disiplin itu adalah tepat waktu, tidak membuang sampah sembarangan, dan tertib lalu lintas. Tetapi semua itu tidak pernah dinilai. Saya tetap dinilai tidak disiplin dan orang-orang yang rambutnya pendek, baju dimasukkan, dan sepatu hitam tetap dinilai disiplin walaupun buang sampah sembarangan, sering telat, lalu berkendaraan seenaknya.

Saya tambahkan pepatah yang tadi: "Peraturan dibuat untuk dilanggar jika tidak ada yang mengawasi dan dipatuhi jika ada."

Sekali lagi ini adalah cerita unek-unek saya selama 22 tahun hidup di Indonesia. Jadi harap maklum jika isi didalamnya semi curhat..hehehe. Boleh setuju, tidak juga boleh. Bukannya saya tidak cinta dan bangga dengan negeri ini. Saya sangat bangga menjadi Indonesia. Tulisan ini adalah salah satu bentuk keperdulian saya terhadap bangsa ini.

Akhir kata saya ucapkan selamat ulang tahun yang ke-65 Indonesia-ku.
Semoga kamu terus maju menjadi bangsa yang disegani.

0 komentar:

Posting Komentar