Hari itu saya berada di rumah almarhum nenek saya. Sebuah rumah rumah tua dengan lantai kayu, jendela kayu dan pintu kayu yang sudah berumur puluhan tahun tetapi masih tampak kokoh di sana. Perabot model dulu berumur puluhan tahun memperjelas kesan tua di rumah tersebut. Saya sempat tinggal di sini sebelum pindah rumah ke Cimahi Utara sampai umur saya enam tahun.
Ketika itu saya dikagetkan oleh suara berisik yang berasal dari jalan. Lalu saya bergegas pergi ke sumber suara untuk melihat apa yang sedang terjadi. Jalan itu dipenuhi oleh kerumunan orang yang sedang berbicara. Tidak begitu jelas apa yang mereka bicarakan, tetapi dari raut muka mereka bisa dilihat bahwa ada sesuatu yang mengganggu mereka.
Tidak lama perhatian saya tertuju pada sebuah benda yang mereka bawa. Sebuah keranda mayat yang sedang dipanggul oleh sekelompok orang. Orang-orang yang memanggul keranda mayat tersebut tidak mengenakan baju. Mereka bertelanjang dada dan sekujur tubuh mereka penuh dengan kotoran.
Ternyata semua orang disana bertelanjang dada. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Ada yang badannya kotor seperti orang yang baru saja mandi lumpur dan ada orang yang sangat bersih seperti baru saja mandi di sungat yang sangat jernih airnya.
Tiba-tiba saya terdorong oleh seseorang ke dalam golongan orang-orang kotor. Saya terus terdorong semakin dalam, mendekati keranda mayat tersebut. Akibatnya badan saya menjadi ikut kotor karena orang-orang kotor itu. Semakin lama saya berada disana badan saya semakin kotor. Kemudian saya berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari kerumunan orang-orang kotor itu. Saya ingin ikut berbaur dengan golongan orang-orang yang bersih. Saya ingin menjauh dari orang-orang mengerikan dan bau ini.
Jika tidak segera keluar dari orang-orang ini maka badan saya akan semakin kotor. Tetapi semakin saya berusaha saya malah semakin terjebak dengan orang-orang kotor ini. Golongan orang bersih itu nampak semakin jauh. Mereka hampir tidak terlihat oleh mata.
Sekarang saya sudah terjebak di sini. Sudah terlambat bagi saya menyusul golongan orang-orang bersih itu. Tidak ada kesempatan kedua sekarang. Tidak ada yang bisa saya lakukan sekarang. Saya hanya bisa diam dan menyesal.
Lalu saya terbangun di suatu subuh, bernafas dan melihat sekeliling kamar. Mungkin inilah kesempatan kedua saya.


0 komentar:
Posting Komentar